Aparat Hanya Memback-up Tim Pengukuran, Sebelumnya sudah Disosialisasikan ke Masyarakat

0
302
Aparat Gabungan mem back up Tim pengukuran tetapi mendapat perlawanan masyarakat

 

SuryaNews Batam-BPKPPD Kepri mengharapkan semua pihak menahan diri terkait masalah Rempang-Galang. Hari ini tim BP Batam hendak melakukan pengukuran lahan terkait rencana investasi PT. Mega Elok Graha (MEG), aparat keamanan hanya bertindak sebagai back-up.

Tim rombongan ini dihadang sekelompok orang di jembatan 4 yang menghubungkan Pulau Tonton dan Pulau Rempang. Ketegangan terjadi hingga muncul tindakan terukur oleh aparat.

“Masyarakat Tempatan di Rempang-Galang jangan terprovokasi oleh pihak-pihak yang punya kepentingan penguasaan lahan besar di kedua pulau tersebut. Mereka hanya melakukan pengukuran, aparat hanya mengamankan situasi,” kata Ketua BPKPPD Kepri Edy Susilo SSos menanggapi situasi terakhir di Rempang-Galang.

Tim BP Batam sebelumnya juga sudah mensosialisasikan kepada masyarakat bakal dilakukan pengukuran hari ini, tapi diduga ada kelompok yang memiliki lahan besar di kedua pulau tersebut terus melakukan manuver melalui orang-orang mereka yang sudah berbaur dengan masyarakat tempatan.

“BP Batam sudah menyampaikan lahan pengganti dengan fasilitas yang lengkap. Persoalan makam leluhur yang ada di lokasi tersebut tentu akan diberikan solusi sebagai adat dan budaya, bagaimana memindahkannya.” papar Edy.

Ada pihak yang seolah sengaja membenturkan aparat dengan masyarakat di sana. Sebagaimana diungkapkan media ini; ada temuan bahwa 6 perusahaan menguasai lahan masing-masing ratusan, yakni; PT. Budidaya Aneka Buah seluas 579 hektar; PT. Golden Beach Resort seluas 365 hektar; PT. Villa Pantai Mutiara seluas 191, 78 hektar; PT. Agribisnis Estate seluas 175 hektar; PT. Camel Asia Internasional seluas 148 hektar; PT. Pantai Cermin Indah Lestari seluas 95 hektar.

“Belum lagi pengusaha yang menguasai 5, 10, 15, 20, hingga 50 hektar itu belahan. Mereka yang lebih berkepentingan dibanding masyarakat tempatan yang hanya menguasai lahan untuk tinggal dan hidup,” jelas Edy.

Edy memang menyayangkan tindakan terukur aparat ,hingga beberapa masyarakat sekitar terkena imbasnya. Tetapi kondisi itu terprovokasi kelompok masyarakat yang melakukan penghadangan di jembatan. “Ini preseden, aparat serba salah, pemerintah juga serba salah. Satu sisi tugas, di sisi lain ada rasa kemanusiaan masyarakat,” tambah Edy.

Edy berharap semua pihak untuk mendinginkan suasana dan mensosialisasikan semua kebijakan secara lebih arif. “Tidak ada solusi jika kita semua mau membahasnya.” tambahnya. ***