Lemtaki Sarankan Pemeriksaan Firli Bahuri di Mapolda Metro, Penyidik Dapat Langsung Menahannya !

0
95

 

SuryaNews Jakarta-Lembaga Transparansi Anggaran dan Anti Korupsi Indonesia (Lemtaki) menyarankan penyidik Polda Metro Jaya memeriksa Firli Bahuri di Mapolda, bukan di Bareskrim. Kapolda dan penyidik Polda Metro Jaya diminta untuk lebih tegas dalam penuntasan kasus dugaan pemerasan tersebut.

“Tidak perlu ada kompromi lagi untuk pemeriksaan di Bareskrim, penyidik Polda Metro Jaya juga dapat melakukan penahanan terhadap tersangka,” kata Ketua Lemtaki Edy Susilo kepada media (20/12).

Menurut Edy, Ketua KPK non-aktif Firli Bahuri perlu ditahan penyidik agar tidak melakukan manuver kembali. Sebelum penetapan tersangka 22 November 2023, Firli beberapa kali tercatat mangkir dari panggilan, dan beberapa kali bersedia diperiksa namun minta tempat di Bareskrim. “Penyidik Polda Metro punya otoritas sendiri menentukan tempat pemeriksaan,” ujarnya.

Manuver paling anyar dilakukan Firli dengan melakukan praperadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 24 November, pada putusan sidang 19 Desember tuntutan gugatan praperadilan tersebut ditolak majelis hakim. Selain itu, ditemukan dugaan tindakan pidana lainnya yakni membawa dan memasukkan dokumen rahasia KPK untuk bukti praperadilan terkait penyelidikan dan penyidikan kasus OTT Suap DJKA Kemenhub.

“Menurut hemat kami, tersangka dugaan pemerasan terhadap SYL itu perlu ditahan, agar tidak ada lagi drama-drama baru.” tegasnya.

Lebih lanjut Edy menekankan, penyidik Polda Metro Jaya perlu lebih fokus untuk pengembangan kasus pemerasan tersebut terhadap kemungkinan munculnya kasus-kasus baru terkait suap dan gratifikasi. “Masih perlu ekstra kerja keras penyidiknya, karena kasus itu bisa dikembangkan juga pada siapa saja yang berpotensi terlibat,” jelasnya.

Edy meyakini publik mendukung penuh agar Penyidik Polda Metro menuntaskan kasus tersebut sampai pada potensi kasus-kasus lainnya. Mengingat kepemimpinan KPk yang bersifat kolektif kolegial, ada kemungkinan kasus Firli tidak sendiri.

“Mudah-mudahan kasusnya dikembangkan lebih luas, tetapi fokus pada kasus utama pemerasannya.” tambah Edy.***