Masyarakat Padati CFD, Isyarat Rindu Bupati Lokal

0
230
Nurul Azisah Sekda Kabupaten Bojonegoro ,Wong asli Bojonegoro diharapkan maju menjadi Bupati 2024

 

SuryaNews Bojonegoro-Forum Kedaulatan Masyarakat Bojonegoro menilai antusias masyarakat pada acara Car Free Day (CFD) di sekitar alun-alun Bojonegoro mengisyaratkan kerinduan kehadiran Bupati yang benar-benar peduli terhadap kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Bojonegoro. Alun-alun Bojonegoro dipadati masyarakat sebagai wujud awal kebangkitan Bojonegoro untuk memilih pemimpin lokal ke depannya.

“Masyarakat sudah merasakan bagaimana kepemimpinan Bupati Impor yang miskin gagasan dan program. Jadi ke depan kita harus terus gaungkan untuk memilih putra daerah sebagai Bupati Bojonegoro, ” kata Ketua FKMB Edy Susilo SSos kepada media (5/11).

Edy menilai masyarakat Bojonegoro sudah cukup cerdas untuk memilih bupati pada Pilkada 2024 nanti. Jejak rekam, jejak gagasan, dan jejak karya akan menjadi tolak ukur masyarakat dalam menentukan kepemimpinan Bojonegoro ke depan.

“Kita berharap semua elemen terus menggaungkan ke seluruh pelosok desa di Bojonegoro agar pada pilkada memilih pemimpin yang kaya gagasan, dilihat rekam jejaknya. Satu periode dipimpin oleh bupati bukan orang Bojonegoro asli apa yang nampak hasilnya? Hanya pembangunan infrastruktur struktur jalan dan fisik lainnya, padahal APBD Bojonegoro mencapai Rp 7-8 triliun selama ini,” jelas Edy.

Menurut Edy, jika eleman masyarakat dan stake holder di Bojonegoro bahu membahu untuk mencari pemimpin yang visioner dan revolusioner bagi Bojonegoro pasti mudah mewujudkannya. “Kita sudah di era kesadaran memilih pemimpin yang punya rekam jejak jelas, baik nasional, provinsi dan bupati Bojonegoro,” ujarnya.

Bojonegoro mengalami penurunan daya serap anggaran di tahun terakhir kepemimpinan Anna Mu’awanah TA 2023, di mana APBD Bojonegoro mengalami Silpa hingga Rp. 3,67 Triliun. “Hampir setiap tahun mengalami Silpa, puncaknya tahun ini hingga 3,67 Triliun. Ini menunjukkan kegagalan kepemimpinan Bupati sebelumnya, dan jadi bahan evaluasi kita semua,” ujarnya.

Besarnya APBD Bojonegoro, lanjut Edy, seharusnya memudahkan program pemberdayaan ekonomi masyarakat dan kemajuan Bojonegoro secara menyeluruh. Tetapi sayangnya selama ini Bojonegoro dipimpin oleh seorang yang minim gagasan, sehingga APBD besar tapi masyarakatnya masih saja tetap susah dan banyak yang miskin.

“Mainset ini harus kita ubah, Bojonegoro harus dipimpin oleh seorang yang kaya gagasan, kaya ide, kaya program dengan rekam jejak yang jelas dan positif,” tambah Edy.***