Profesor yang dikukuhkan bersamaan itu adalah Prof. Ir. Puguh Surjowardojo,MP di bidang Ilmu Manajemen Ternak Perah dari Fakultas Peternakan (Fapet). Prof Puguh merupakan profesor aktif ke-19 di Fapet dan ke-195 di UB serta menjadi profesor ke-279 dari keseluruhan profesor yang dihasilkan UB.

Selanjutnya adalah Prof. Dr Sri Andarini yang dikukuhkan sebagai profesor di bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat dari Fakultas Kedokteran (FK). Prof Andarini merupakan profesor aktif ke-17 dari FK dan ke-196 di UB serta menjadi profesor ke-280 dari keseluruhan profesor yang dimiliki UB.

Puguh Surjowardojo dalam pidato ilmiah yang bertajuk “Manajemen Pencegahan Mastitis Pada Sapi Perah FH Melalui Teat Dipping dengan Antiseptik Ekstrak Herbal” itu mengemukakan larutan ekstrak herbal mampu menghambat pertumbuhan bakteri pada sapi perah karena memiliki senyawa antimikroba.

“Saat ini alternatif yang kami kembangkan bersama para peneliti di Indonesia adalah menggunakan larutan ekstrak herbal yang memiliki senyawa antimikroba, yaitu senyawa flavonoid, saponin dan tanin,” kata Prof Puguh dalam pidato ilmiahnya saat pengukuhannya.

Ia mengemukakan tanaman herbal ini terdapat di sekitar peternak, seperti daun kersen, daun binahong, daun sirih hijau, daun sirih merah, daun beluntas, daun kelor, dan buah mahkota dewa ternyata memberikan hasil yang memuaskan, karena ekstrak larutan tersebut mampu menghambat pertumbuhan bakteri.

Temuan tersebut perlu upaya untuk mewujudkan hilirisasi ekstrak herbal menjadi sediaan yang mudah terjangkau serta murah harganya bagi peternak rakyat untuk pencegahan mastitis.

Manajemen pencegahan mastitis dimulai dengan mengenali sedini mungkin gejala subklinis mastitis, sehingga dapat mencegah kerugian yang berakibat pada tingginya morbiditas hingga mortalitas sapi perah.

Pada industri sapi perah, mastitis merupakan momok yang menakutkan dan menjadi “pembunuh senyap” bagi ternak sapi. Mastitis ini menimbulkan kerugian ekonomi yang amat besar, karena menurunkan produksi dan kualitas susu.

Selain itu, mastitis mengakibatkan kerugian, karena infeksi yang terjadi pada sapi perah dapat dengan mudah menular kepada sapi perah lainnya.

Sementara itu Sri Andarini dalam pidato ilmiahnya mengatakan penatalaksanaan obesitas secara holistik dengan pendekatan kedokteran keluarga mampu memberikan kenyamanan secara psikologis bagi seseorang yang mengalami obesitas.

Obesitas, kata Andarini, merupakan penyakit kronis dengan prevalensi yang terus meningkat di seluruh dunia, termasuk Indonesia dan akan meningkatkan beban ekonomi bagi masyarakat yang cukup besar.

“Riset Kesehatan Dasar (RKD/Riskesdas) menunjukkan setiap tahun terjadi peningkatan prevalensi obesitas dari 10,5 persen pada tahun 2007 menjadi 14,8 persen pada tahun 2013 dan menjadi 21,8 persen di 2018,” katanya.

Ia mengatakan obesitas sentral juga mengalami peningkatan cukup tinggi dari 18,8 persen pada 2007 menjadi 26,6 persen pada 2013, dan menjadi 31 persen pada 2018 (EfTe)